Senin, 17 Februari 2014

PERMAINAN ASLI INDONESIA



Interaksi antara penduduk Pulau Bali yang beragama Hindu dengan orang yang memeluk agama Islam yang datang ke Bali beberapa abad yang lalu sangat memungkinkan mereka saling mempengaruhi, baik dari segi sosial mahupun budaya. Hal itu dapat dibuktikan dengan ditemui manuskrip lama Bali yang bernuansa Islam. Antaranya ialah Geguritan Nabi Muhammadtentang pemujaan kepada Allah dan Sang Hyang Widhi.
Geguritan Nabi Muhammad  adalah manuskrip dalam koleksi Perpustakaan Kantor Dokumentasi Budaya Bali, yang tersimpan di Kropak G/XXVII/1/DOKBUD. Jika dibaca keseluruhan teks itu, dapat diungkapkan isinya seperti ini:  Apabila memuja Hyang Widhi dan Nabi Muhammad, selalu berbakti kepadaNya, pastilah hidup kita akan bahagia.
Lihat petikan di bawah ini:

Ingsun amimitya muji,
anasbat namani alah,
ingkang amurah ing dhunya rko,
ingkang asih ing-ahèrat,
kang pinuji tan pegat,
kang rumaksèng ãlam-iku,
ingkang asih I Nabi Muhammad. (Pupuh 1)
Yan sampun amuji Hyang Widhi,
amuji Nabi Muhammad,miwah lan kawula wargane,
ingkang sinunghaken ika,ingkang sinunghaken kanugrahan,
lamin ingsung tumuruh,
nora pegat amujyang suksma (Pupuh 2)
Terjemahannya:
Saya mulai memuji/memuja,
dengan menyebut nama Allah,
yang maha pemurah di dunia,
dan maha pengasih di akhirat,
yang juga dipuji tiada henti,
dialah yang menjaga alam,
yang bernama Nabi Muhammad.
Setelah memuji Hyang Widhi,
memuja Nabi Muhammad,
dan keluarganya,
merekalah yang diberi,
anugerah,
selamanya anugerah dilimpahkan,
karena tak putus memuja Hyang Suksma.
Pemujaan Allah dan Hyang Widhi dalam petikan di atas menunjukkan Tuhan itu adalah Satu (maha Esa). Tidak ada Tuhan ke-2 dalam agama ini atau itu.
Manuskrip Geguritan yang bernuansa Islam di Bali tidak dapat dipisahkan dari masuknya suku bangsa seperti Jawa, Bugis, Sasak, Madura dan Melayu ke daerah ini. Dari cerita turun-temurun itu didapati maklumat bahwa sebanyak 40 orang Islam yang mula-mula datang ke Bali sebagai pengiring kepada Dalem Ketut Ngelesir (Raja Gegel) ketika pulang dari kunjungannya ke Majapahit.
Interaksi antara penduduk Bali (yang beragama Hindu) dengan orang Islam yang datang ke Bali sejak beberapa abad yang lalu itu memungkinkan mereka saling mempengaruhi, baik dari segi sosial mahupun budaya. Hal itu dibuktikan dengan masyarakat Kampung Muslim di desa Pegayaman (Buleleng) sampai kini masih menggunakan nama depan khas Bali, termasuk I Wayan, I Made, I Nyoman  dan I Ketut.
Dalam sastera Bali klasik di koleksi Gedong Kirtya, Kantor Dokumentasi Budaya Bali, Museum Bali, Perpustakaan Wilayah Bali, Balai Bahasa Denpasar dan Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana telah ditemui
manuskrip yang bernuansa Islam. Antaranya ialah Geguritan Siti Badariyah, Geguritan Juarsa, Geguritan Ahmad Muhamad Raden Saputra, Geguritan Yusuf, Geguritan Hamsah, dan Geguritan Nabi Muhammad. Sedangkan pada Museum Negeri Nusa Tenggara Barat di Mataram dikoleksi Geguritan Nur Muhammad, Geguritan Nabi Bercukur dan Geguritan Syariat Trazur.
Nilai yang terakam dalam Geguritan-geguritan telah melekat pada keperibadian setiap tokohnya yang mempunyai perwatakan yang tersendiri. Melalui perilaku tokoh-tokoh itu dapat dibentuk nilai-nilai luhur yang menjadi pedoman dan juga sumber rujukan kehidupan, terutamanya nilai keagamaan dan etika. Bagi orang di Pulau Bali, nilai-nilai adalah hasil pembentukan akulturasi antara budaya Hindu dan Islam.  Dalam masyarakat di Bali, warga Muslim disebut sebagai Nyama Selam (saudara Muslim).
Selain nilai keagamaan dan etika dalam Geguritan, penghormatan & pemujaan roh suci terhadap  tokoh agama Islam dan Hindu, seperti  Ratu Bagus Sundawan (tokoh Islam dari Sunda), Ratu Bagus Melayu (tokoh Islam dari Melayu), Ratu Ayu Syahbandar (tokoh Budha dari China), Dewi Sri (Hindu) dan Ratu Gde Dalem Mekah (tokoh Islam dari Mekkah).
Kewujudan Pura  tersebut adalah membuktikan adanya akulturasi budaya antara Hindu-Islam di Bali.

0 komentar:

Posting Komentar