Senin, 16 Februari 2015

SI TUAN PENGETUK PINTU



            Tengah malam, di saat wanita itu tengah terlelap. Jiwanya telah mengambang dan mudah terbuai oleh bunga tidur yang menyapanya sedari tadi. Dia tidur di atas pembaribaringannya yang lembut dan terselimuti oleh kain yang tebal. Membuat dirinya ternyamankan bahagai berada di atas awan. Sehingga angin malam yang terlewatkan sejak tadi tidak terasa. Karena telah terbungkus oleh kehangatan tidurnya yang sempurna ini.


            Dari ujung ruangan, terdengar samar-samar tiga kali ketukan nyaring yang tidak membawa pengaruh besar bagi wanita itu. Ia tetap terpejam dan tidak menghiraukan gangguan yang timbul dari luar sana. Tidak lama kemudian, terdengar kembali tiga ketukan yang sama. Dan sekali lagi, ia tetap saja tidak menggubriknya. Tanpa lelah, seseorang dari luar sana tetap konstan dengan tiga kali ketukan yang tak terhenti. Lama kelamaan membuat wanita itu sedikit terusik dan terganggu tidurnya. Sesekali ia memalingkan muka, atau hanya sekedar membenarkan posisi tidurnya yang tidak salah. Sambil menutup telinganya rapat-rapat dengan telapak tangannya yang halus. Dan berharap bahwa sang pengetuk pintu itu dapat segera pergi. Berhenti untuk mengetuk pintu rumahnya.

            Dari luar sana, malam kian larut. Sang pengetuk pintu itu tak kunjung beranjak dari posisinya. Tiga kali ketukan itu, pun tetap ia berikan sambil terus berharap agar sang tuan rumah brrniat untuk membukaksn pintu baginya. Menyambutnya dengan jabatan tangan dan senyum manis yang tersungging di pipinya yang halus itu. Serta menyilahkannya masuk ke dalam rumah itu. Namun hingga pagi pun tiba, sang fajar sudah mulai menyingsing dan matahari akan segera terbit. Dedaunan di kanan kirinya jua telah berembun dan kabut pagi yang kian menebal itu. Tanpa lelah sang pengetuk pintu itu masih memberikan tiga ketukan lembut kepada seseorang di dalam sana. Dan sang wanita itu tetap saja tak berkutat di dalam.

            Rupanya wanita itu mulai lelah mendengarkan suara ketuka pintu tersebut. Akhirnya ia pun membukakan pintu rumahnya untuk sang pengetuk pintu itu. Dengan harapan agar ia dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh sang pengetuk pintu tersebut. Wanita itu juga menginginkan agar si tuan pengetuk pintu itu dapat segera pergi setelah ia memperoleh apa yang is inginkan. Namun sungguh tidak terduga dan tanpa dinyana sedikit pun, di saat pintu itu terbuka tak nampak seorangpun di sana. Hanya ada sepi. Bahkan jejak kakinya pun tidak ada. Seperti udara pagi telah membawa sisa keberdaannya.

            Kesal. Marah. Jengkel. Sudah pasti dirasakan oleh wanita itu. Bagaimana tidak, tidur cantiknya itu telah terusik oleh orang-orang iseng yang tidak bertanggung jawab itu. Apa maksud dari sang pengetuk pintu itu ??? Memberikan sebuah pengharapan palsu kepada seseorang yang belum tentu ia kenali sebelumnya. Wanita itu pun kembali mengunci pintunya dan kembali masuk untuk melanjutkan aktifitas lain. Karena sang fajar telah berubah menjadi semburat matahari di pagi hari.

            Aktifitas pun berjalan seperti biasanya... (Didedikasikan untuk ASB)



To be continue...

0 komentar:

Posting Komentar