Selasa, 29 September 2015

Merpati Putih (Part 2)

Aku melihat bayinya terlahir secara sungsang dengan kepala yang muncul terlebih dahulu. Belum lagi kepalanya yang terlilit tali pusatnya sendiri, hingga membuatnya terhambat keluar. Ditambah dengan keadaan induknya yang yang sangat memprihatinkan.
Bagaimana tidak, tangannya berlumuran darah, seperti terdapat bekas peluru. Nampaknya waktu itu singa tersebut sedang mencari makanan untuk kawanannya. Kemudian terdapat seorang pemburu yang menembak singa betina tersebut dengan timah panasnya.
Lalu ia berlari menghindari pemburu tersebut. Sampai terdampar di sini, di tempat ini. Peluru itu mengenai lengan depan si induk yang tengah hamil tua ini. Mungkin kontraksi dadakan yang membuat ia harus melakukan persalinan secara tiba-tiba. Coba bayangkan jika peluru tersebut mengenai perutnya, maka dua nyawa akan melayang seketika.
Pemuda itu pun langsung tersadar dari lamunannya, dan membantu persalinan singa tersebut. Air mata singa itu meleleh mengelilingi lingkar matanya, seolah menggambarkan betapa sakitnya dirinya saat itu. Bagaimana tidak, ia harus menanggung beban kesakitan yang berlipat ganda. Pertama, perih melahirkan dan kedua panasnya daging yang tertembus peluru.

Saat mendekat, singa itu sepertinya enggan dengan kedatangan pemuda tersebut. Dia bergeser menjauh dengan segala keterbatasan yang ia miliki. Setelah pemuda tersebut mengelus dan mencoba untuk berkomunikasi dengannya, berbicara dengan bahasa hati antar makhluk hidup yang saling membutuhkan pertolongan. Singa itu pun mulai luluh dengan beberapa elusan tepat pada kepala si kucing besar itu. Sepertinya pemuda tersebut sudah terbiasa menjinakkan hewan dengan memperlakukannya semacam itu.
Dia menjadi teringat kepada kucing manisnya di rumah. Dia memperlakukan kucingmya itu sama persis dengan singa itu saat ini, karena singa adalah bentuk raksasa daripada kucing.
Anjing buldog kesayangan pemuda tersebut juga tak mau ketinggalan. Ia mendapat bagian untuk menjilati luka lengan dari singa tersebut. Guna membersihkan luka tembaknya dan menghentikan pendarahannya. Sedang pemuda tersebut membantu persalinannya.
Ironis, kepala singa kecil telah terlihat, terlilit tali pusat membuatnya sulit untuk bernapas. Wajahnya pun mulai membiru hamper kehabisan sisa oksigen. Matanya melotot dan napasnya terengah-engah. Pemuda itu pun segera mengambil pedang buru miliknya. Maksudnya untuk memotong tali pusat yang melilit kelahirannya.
Namun belum sempat ia melakukannya, singa itu pun telah menggigit tangan pemuda tersebut. Mungkin ia takut bahwa pemuda itu akan membunuh anaknya nanti. Gigitannya tidak begitu berarti, rupanya singa itu benar-benar lelah. Bahkan taring-taringnya yang sajam saja tidak mampu menembus daging lunak pemuda tersebut. Hanya balutan air liur hangat yang membahsahi tangannya, sebagai tanda gigitan si raja hutan betina itu. Tenaga telah habis.
“Hei, tenanglah sobat. Aku hanya ingin memotong tali pusat anakmu saja. Agar kelahiran anakmu lekas selesai.” Jelas pemuda itu ramah. Lalu ditariknya tali pusat anak itu. Dan berhasil, kini tinggal mengeluarkan bagia badannya saja.
Singa betina itu mengaum, keras sekali, menggema ke seluruh sudut hutan. Seakan mengerang kesakitan. Dan hanya ia dapat gambarkan melalu betapa besarnya aumannya tersebut. Sambil terus mengeluarkan keasliannya, singa itu diminta untuk mengedan guna mengeluarkan anaknya.
Si anjing bulldog juga semakin dalam menjilati luka tembaknya, sepertinya ia hamper menemukan peluru tersebut.  Sedang pemuda tersebut mulai meneteskan keringat dingin karena ketegangan yang menyeruak disekelilingnya. Sama seperti dokter bedah yang sedang mengoperasi pasiennya.
Tidak begiut lama, cukup tiga kali edanan telah mengeluarkan putranya terserbut. Ia masih hidup, namuan berada dalam ambang kematian. Pemuda itu berusaha untuk mendengarkan detak jantungnya, benar saja lemah sekali.
Tugasnya belum selesai, ia masih harus membantu singa kecil itu untuk bernapas secara mandiri. Beberapa kali mencoba berbagai cara yang dapat ia lakukan untuk mengumpulkan oksigen. Dan akhirnya pun berhasil. Kedaan singa kecil itu mulai beranjak stabil.
Sedang induknya telah sadarkan diri setelah beberapa waktu pingsan pasca melahirkan. Oh iyah, pelurunya juga telah berhasil si anjing keluarkan dengan sempurna. Pendarahannya juga sudah mulai berhenti,
“Kerja yang bagus, Kawan” Puji pemuda itu kepada anjingnyasambil terus mengelusnya lembut. Ia pun membalas elusan saying tuannya dengan menjilati tangan pemuda itu yang mulai lengket karena air lir singa yang mongering.
Pemuda itu tinggal membungkus luka si induk singa dengan obat tradisional, ramuan alam yang sekiranya dapat membantu untuk mengeringkan luka bekas tembakan tersebut. Sehingga induk singa itu lekas sembuh dan cepat merawat putranya sebagaimana mestinya.
Racikan ini diajarkan oleh Ibu pemuda tersebut, ia sering sekali melihat ibunya menumbuk-numbuk dedaunan yang akan dipakaikan sebagai jamu di saat keluarga mereka sedang sakit.
Sebagai manusia yang cerdas, tentunya pemuda itu akan selalu kepada ibunya. Apa nama racikannya ?? Untuk apa ?? dan apa khasiatnya ?? hingga bagaimana cara membuatnya ?? semua ia tanyakan tanpa celah.
Ibunya pun akan dengan sabar menjawab segala pertanyaan yang terlontar dari putra semata wayangnya ini. Itulah yang membut pemuda itu begitu melekatkan memori tentang bagaiamana cara membuat ramuan tradisional. Dengan begitu ia akan selalu mengingat ibunya J
Di tumbuknya dedaunan muda yang ia temukan tak jauh dari lokasi kejadian, lalu ia balurkan ke sekujur luka bekas tembakan si singa itu. Sambil terus menahan sakit, singa itu tampak diam dan pasrah pada penanganan pemuda tersebut. Sepertinya ia telah menaruh kepercayaan penuh kepadanya. Tidak seperti awal pertemuan mereka.
Daun yang lebar, tebal, besar, dan kuat ia gunakan untuk membungkus lukanya, agar ramuan tadi tidak berhamburan kemana-mana. Mungkin fungsinya sama seperti kotak perban dalam kotak P3K. dan ia mencabut tanaman inang yang ada di sampingnya sebagai pengikat daun tersebut. Sempurna ! Lengkap sudah, begitu cekatan pemuda itu dalam menolong kelahiran bayi singa tersebut. Tanggap dan cepat dalam membantu sesame.
Hahaha … Baru sadar pemuda itu, ternyata ia juga ditemani oleh sekumpulan merpati putih yang sedari tadi berkicau dengan merdunya. Mungkin burung ini juga yang berteriak berulang kali hingga menuntunnya ke tempat ini.
Ia mendengar nampaknya ia begitu senang. Sepertinya ia turut merayakan kelahiran calon penguasa hutan ini. Entahlah pemuda itu pun juga tidak mengetahuinya. Ia hanya menerka-nerka saja. Mecoba untuk menebak bahasa burung. Yang tahu hanyalah mereka dan sesamanya.
Pemuda itu lelah sekali . rasa haus menyeruak kering di kerongkongannya. Persediannya airnya pun telah habis. Pakaiannya basah, kuyub oleh keringat dingin sehabis ia keluarkan. Sisanya saja masih ada di kenignya. Besar, sebedar biji jagung, banyak pula. Singa itu sepertinya juga membutuhkan iar minum, untuknya juga anaknya.
“Tunggu sebentar ya Sobat, aku akan segera kembali” pinta pemuda itu kepada si singa. Ia tak menjawab. Ia masih saja ayik menjilati anakanya yang baru lahir itu. Dan tak bisa diganggu oleh hal lain yang ada di sekitarnya. Memang kemesraan ibu dan anak begitu luar biasa indahnya. Pemuda itu menganggap bahwa kebungkaman singa tersebut adalah jawaban Iya.
Lantas ia pergi menjauh membawa botol minuman dan meninggalkan ranselnya itu, menujusuara gemericik air yang begitu nyaring ia dengar.
Benar saja, tidak begiut jaub dari tempatnya beristirahat terdapat sebuah mata air yang teramat indah. Air terjun dengan aliran sungai di bawahnya. Airnya deras jatuh ke bawah dengan deretan pohon-pohon di samping kanan kirinya. Begitu derasnya sehingga menciptakan cipratakan bias yang melahirkan pelangi yang sangat menakjubkan. Sungguh Maha Besar yang tidak dapat tergantikan.
Pemuda itu bergegas, ia hanya mencuci muka sekenanya. Lalu segera mengambil air untuknya minum juga untuk si singa betina itu. Seusai dengan menghilangkan dahaga di bibir sungai itu, dengan penuh kehati-hatian ia membawa dua tempat air minum, satu untuk anjingnya, dan yang lain untuk pasangan singa dan anaknya.
Sambil berjalan ia membayangkan bagaimana ia nanti pasca berakhirnya semua ini, ia kana kembali pergi ke air terjun itu. Membuat kubangan, lalu berendam di dalamnya. Dengan pijatan alami dari jatuhnya anak sungai itu. Alangkah nikmatnya ! bertemankan udara sejuk nan asri, dan hembusan angin sebagai nyanyian surgawi yang memabukkan.
Dan enjingnya tentu akan bersenang-senang ngikuti arus sungai itu. Nampaknya pemuda itu akan menghentikan langkahnya barang sejenak lebih lama. Ia ingin merasakan kekayaan alamciptaanNya ini yang tiada duanya. Gambaran alam di atas kanvas alam semesta dengan tinta penyejuk jiwa yang semakin penyempurnakan ciptaanya saja. Aduhai indahnya…
Belum lagi sampai, pemuda itu masih tersenyum sendiri dalam lamunan nakalnya. Bergelut dengan dunianya sendiri. Ia mendengar lolongan keras anjingnya, yang disusul dengan gonggongan kencang berkali-kali. Pemuda tersebut merasakan ada hal yang tidak beres. Ia pun mencoba untuk mempercepat langkahnya. Cipratan air yang mulai tumpah membasahi lagi pakaian pemuda itu lagi yang tadinya akan segera mengering.
Setelah sampai, tak ada signifikan yang terjadi pada tempat itu. Semua masih tetap sama seperti saat ini ia tinggalkan tadi, tidak ada yang berbeda. Hanya saja, si ibu singa tadi tidak lagi menjilati anaknya. Ia justru menekan-nekan tubuh anaknya, menggeser kepalanya dengan lembut.
Sedangkan anaknya hanya tergolek lemak tak berdaya. Diam saja, tanpa kata. “Mungkin ia sedang tidur”, piker pemuda itu. Namun firasatnya mengatakn lain, sepertinya ia harus memeriksanya lebih rinci lagi. Ia letakkan tempat air itu, denga sisanya yang hanya tinggal separuh. Lantas ia beranjak mendekati si anak singa itu.
Induk singa itu memperhatikan si pemuda tersebut dengan tatapan penuh harap, seakan berharap bahwa anaknya dalam kondisi yang baik-baik saja. Dan tidak terjadis esuatu yang begitu berarti kepadanya. Pemuda itu pun memegang tubuh anak singa itu.
Dingin. Tak terasa aliran darahnya mengalir ke sekujur tubuhnya. Nadinya, hilang. Tidak terdapat denyutan yang terasa. Jantungnya, jua tak ada. Tidak berdetak sedikit pun. Benar-benar diam tak bergerak. Seperti hanya onngokan daging yang berbalut kulit. Tidak lebih.
“Anakmu telah mati,” jelas pemuda itu seketika, tanpa banyak basa-basi seperti kebanyakan orang. Sekan mengerti dengan perkataan pemuda tersebut, sang ibu singa itu pun melemas. Ia ciumi, ia peluk, ia jilati jasad anaknya yang hanya dapat bertahan dalam hitungan jam ini.
Singa itu kecil, mungil, dan tak berdaya. Dia adalah makhluk yang tidak berdosa, namun sayangnya harus diambil sedini ini. Masih terlalu muda baginya. Ia baru saja menghela napas, mungkin dapat dihitung dengan jari. Ia pun belum sempat mengesap ASI dari induknya. Belum sempat merasakan indahnya berpetualang dengan sesamanya. Belum sempat tumbuh dewasa, bahkan ia pun belum lagi mengeluarkan auman pertamanya sebagai seekor singa sejati. Giginya saja maish belum tumbuh. Namuninilah takdir, suratan yang harus dilalui oleh bayi yang malang itu. Bersyukur ia sempat lahir ke dunia ini, walaupun dengan mata tertutup sekali pun.
Pemuda itu pun menyodorkan air yang tadi ia bawa. Berharap agar si induk singa itu dapat segera minum. Sehingga ia segera tenang dan menerima kenyataan bahwa anaknya telah mati. Namun sayangnya iar itu ia lempar dan ia buang jauh-jauh. Sepertinya ia sedang merasakan kesedihan yang teramat mendalam. Pemuda itu pun mengerti, dan dapat memakluminya.
Mungkin ini kali pertama ia melahirkan dan harus menelan pil pahit dengan putra pertamanya yang telah mati sebagai kenyataannya. Belum lagi siklus kelahiran singa yang teramat lama. Tidaklah mudah membuat seekor singa dapat hamil. Ia harus memiliki cukup umur untuk dapat memiliki ketururan. Terlebih lagi kendala dewasa ini yang mana terdapat banya sekali perburuan hewan liar seperti singa, yang membuat mereka mati terbunuh sebelum mereka dapat melanjutkan keturunannya.
Bagaimana ia akan mengatakan kepada keluarganya bahwa ia telah melahirkan, namun bayi kecilnya mati. Bagaimana ia dapat menjelaskan kepada sesamanya bahwa pewaris sang raja hutan telah tiada. Haruskah ia membawa jasad anaknya itu ke hadapan semua orang agar semua percaya ?? Entahlah.
Ini semua tidak serumit yang dibayangkan . sebenarnya, mudah saja. Hanya tinggal dijalani, dinikmati, dan disyukuri. Dan selesai. Karena memang Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan yang melampaui batas kemampuan pada setiap makhluknya. Percayalah, Mama singa. Semua pasti ada jalannya. Jalani saja seperti kau sedang meminum obat, walau pun itu rasanya pahit. Namun itu akan segera menyehatkanmu. Yakinlah…
Hari itu adalah hari yang begitu melelahkan bagi pemuda tersebut. Ia juga turut berduka atas kepergian akan singa yang telah ia tolong tadi. Ia menyesal karena tidak dapat berbuat banyak kepada bayi mungil itu. Bahkan alampun ikut bersedih, langit mulai mendung, udara menyeruak menjadi teramat dingin. Tanpa piker panjang lagi pemuda itu pun memutuskan untuk menginap di sini, di tempat ini.
Khawatir akan turun hujan, pemuda tersebur mengubah gaya pendoponya kali ini dengan sedikit tambahan kelambu dari inang pohon dan atapnya dari dedaunan kering. Dibuatnya juga kali ini agar tidak ada celah sedikit pun , setidaknya agar tempat itu dapat mengusir rasa dingin pada malamnya nanti.
Dan benar saja, tidak lama berselang gerimis pun dating. Rintik-rintik yang membawa udara dingin yang begitu menyeruak. Disusul dengan guyuran hujan yang begitu derasnya. Alam mulai murka, ia mulai menunjukkan kedukaannya saat ini. Hutan pun turut berkelut dalam kedukaan yang berselimut dengan amarah. Bagaimana tidak ?? Hutan telah kehilangan pewarisnya, calon pelindung hutan.
Alam sekan mengerti keadaan saat itu, turut merasakan kegundahan yang berkecamuk dalam hati kami kala itu. Bahkan sepertinya alam itu telah galau ketimbang kami, terbukti dengan ia telah memuntahkan segala yang ia punya. Hujan pun tak kunjung reda, badai malah dating menyapa. Membawa topan yang begitu besar. Juga gunturnya yang begitu menggelegar. Petir itu berkilat-kilat marah menyambar apa pun yang ada di sana. Semua yang ia lihat akan ia jilat tak ubahnya menjadi barang yang hanya memiliki satu warna. Hitam. Hanya menjadi abu dalam pelimpahan belaka.
Khawatir dengan keadaan singa itu, ia tetap dalam posisinya, denganmerangkul jasad anaknya yang mulai membusuk. Sedang si anjing bulldog setia menjaga tepat di sampingnya lengkap dengan guyuran hujan yang membalutnya. Dalam hati, pemuda itu berujar bahwa besok ia akan mengubur bayi yang malang itu. Lantas akna melanjutkan perjalannya untuk mecari kijang yang ia cari-cari.
Dan keesokan harinya…
Kelelahan yang begitu berarti, membuat pemuda itu tidur terlalu lelap. Hingga ia tak sadar bahwa hujan telah reda. Paginya pun ia lalui ketika matahari mulai menyingsing mendekati kepala. Padahal biasanya sebelum fajar terbit ia telah terbangun, lantas berjalan mancari tujuannya. Semangatlah yang telah membangunkannya dari bunga tidur yang membuainya selama ini. Namun sepertinya kelelahan badannya kali initelah memberatkan mata si pemuda itu.
Badannya yang remuk telah membuai sekujur tubuhnya. Hingga ia bangun kesiangan pada pagi ini. Si anjing yang juga merasakan hal yang tidak beres telah terjadi kepada tuannya kali ini. Ia pun mulai khawatir karenanya. Tidak kekurangan akal, akhirnya anjing itu pun menggonggong sekeras-kerasnya guna membangunkan tuannya. Ia terus menerus mengeluarkan suara khasnya itu, memberisikkan hutan di pagi hari.
Lelah menggonggong karena suranya yang tidak digubriknya sedari tadi, anjing iut pun berganti dengan mengoyang-goyangkan pohon tempat tuannya beristirahat. Sekuat tenaga ia mencoba untuk menggerakkan pohon itu, baik iut dari kiri maupun dari kanan. Namun usahanya itu masih saja sia-sia. Karena memang tenaganya yang boleh dibilang masih terlampau kecil jika dibandingkan dengan ukuran pohon tersebut. Maka ia pun hanya mampu menggetarkan dedaunan di atas sana. Sehingga daun-daun itu mengguyur sekujur tubuh anjing itu dengan embun dingin bercampur sisa air hujan semalam.
Sedangkan, di atas sana tuannya sedang asyik mendengarkan nyanyian surgawi yang mengalun begitu indahnya, begitu merdunya. Ia semakin betah saja berada di sana, ditambah dengan tarian gemulai dari Sang Empunya. Tidak seronok, namun cukup menghibur. Bayangan pemuda itu, bahwa ia telah berjam-jam berada di sana. Melihat pemandangan nan asri ditemani dengan hiburan yang memadu kasih. Sungguh lengkap sekali, surge dunia.
Jika boleh memilih, maka pemuda itu akan meminta bahwa saat ini untuk berhenti. Biarkan waktu berlalu, namun izinkan ia dapat tetap menetap di sini., di tempat ini. Semua kenikmatan ini seakan menjadi lem perekat di kursinya tempat ia terduduk saat ini. Sehingga ia begiut enggan untuk sekedar beranjak dari posisinya saat ini.
Tetapi semua seketika musnah, lenyap ditelan bumi ketika gempa itu datang. Nyanyina itu berubah menjadi jeritan yang mencekam. Dunia berguncang, robek di sana sini, runtuh semua. Pemuda itu pun mencoba untuk berlari menyelamatkan diri, tetapi langkahnya terhalang oleh sempoyongnya gerakan kaki yang juga melambat. Buminya terbelah, ia berusaha untuk berlari semakin kencang. Namuan usahanya gagal karena ia tersandung oleh kakinya sendiri, dan membuat keadaan semakin memburuk.
……….
Dan ia melihat suatu kenyataan bahwa ia telah bermimpi, ia masih berada di dalam gubug yang ia buat sendiri tadi malam. Ternyata semuanya hanyalah sebuah mimpi yang sekedar lewat menyapa malamnya tadi. Pemuda itu mendapati bahwa pipinya telah basah oleh air liur yang ia keluarkan tanpa sengaja saat tertidur. Hahahah J “Masih hangat, mungkin tidak lama keluarnya”, piker pemuda itu sambil tersenyum sendiri.

Pemuda itu maish saja termenung dalam ingatan kepada mimpinya tadi. Jika dibilang mimpi indah, namun mimpinya berakhir dengan sesuatu yang begitu mendebarkan. Dan jika dikatakan dengan mimpi buruk, kejadian tadi berawal dengan bahagia. Entahlah, tapi yang jelas seuatu pengalaman yang begitu unik dengan bunga tidur yang teramat luar biasa.

To Be Continue :)

Oleh : SAM98 (Rabu, 30 September 2015)

0 komentar:

Posting Komentar