Jumat, 05 Desember 2014

Our Dream is Our Weapon


Graphic Vocational English Debate...
Aroma Hujan di Akhir Tahun..
            Sekarang adalah bulan terakhir di tahun 2014. Tentu saja, karena ini adalah Bulan Desember. Apa yang terfikir mengenai Bulan Sagitarius ini ??? Natal dan tahun baru, itu tentu. Libur akhir tahun, itu sudah pasti.
            Aroma hujan menyebar tatkala gema takbir itu sedang melanglang di Bumi Grafika. Sungguh sebuah Anugerah yang amat luar biasa adanya. Rintikannya berjuta-juta hingga tak terkira. Tetesannya menyejukkan setiap apa yang Ia jatuhi. Suarnya nyaring ibarat alunan orkestra dari musik klasik seniman ternama. Kilauannya jernih membasahi dan menentramkan setiap jiwa yang sedang luka.
            Buaian dan cipratan mesra Sang Pembawa Hujan kala Ia menyebarkan percikan setiap detail dari tubuhnya, menjadi partikel-partikel kecil dari sebuah keadilan. Aroma tanah yang berpadu dengan nikmatnya bau hujan, melahirkan adonan yang selalu ditunggu kala Ia datang. Meskipun terkadang Ia juga menjadi alasan dari sumber ketidakbenaran.

            Alirannya menggenangi setiap kali Mereka bertemu dengan gerombolan yang lain. Terlihat menyerupai bentuk abstrak yang tidak begitu berarti, namun sungguh sarat akan makna.
            Tak hanya atap rumah, pucuk daun, pot-pot bunga, pagar, hingga benda-benda kecil pun tidak luput dari serbuan Pasukan Pembawa Hujan tersebut. Yang itu menandakan bahwa mereka akan menutup mata terhadap apa yang ada di depannya. Bagus justru. Karena setiap benda akan saling berlomba untuk menonjolkan aromanya masing-masing kepada dunia.
            Hujan seakan menjadi ajang baru bagi setiap makhluk di muka bumi ini, untuk menunjukkan eksistensinya, untuk menunjukkan keberadaannya, untuk saling berpacu dengan Sang Waktu, sebagai alasan bahwa dirinya juga layak untuk tetap bertahan dan layak juga untuk dibutuhkan.
            Satu hal yang pasti, bahwa tidak ada parameter sebanyak apa mereka akan memberi kita kesempatan dalam berjuang. Tapi yang jelas, hujan itu bukanlah sesuatu kesemuan. Membuktikan kepada seluruh dunia bahwa semua ini nyata adanya. Hanya bagaimana kita mampu untuk memanfaatkan peluang tersebut dengan sebaik-baiknya.
            Begitu suka dengan Aroma Hujan, entah karena apa alasannya. Karena Aroma Hujan itu lucu. Bisa dibilang Unik, karena tidak ada satu hal pun yang mampu menyamai keunikan dari Aroma Hujan ini. Karena hujan akan selalu datang di setiap saat, setiap waktu. Maka aku ingin sekali berjalan berdampingan untuk meraih semua Asa bersama dengan Rintikan Hujan. Karena di sana, Aroma Hujan pasti akan menemani langkah-langkah perjuangan Itu. Detik-detik dimana semua itu akan terjadi, maka Mereka semua akan menjadi saksinya.
            Dan bersamaan dengan datangnya Hujan ini, ingin ku ceritakan sebuah cerita yang begitu mengguncangkan seluruh dunia dengan kehadirannya. Yang juga mampu mengoyak semua ini di muka bumi ini. Membuat gempar dunia dengan Prestasinnya..
Dan..
Inilah..
GVED, Graphic Vocational English Debate..
Entah disebut apa semua ini. Sebuah ekstra kurikuler, sebuah organisasi, sebuah forum, atau apapun sebutannya. Lebih dari itu, semua terlihat jauh lebuh bermakna. Dengan setiap individunya yang saling terikat satu sama lain, dengan setiap anggotanya yang saling bergandengan tangan, saling bersatu untuk membentuk sebuah gugusan baru yang bernama keluarga. Keluarga yang tercipta pun amat berbeda dari keluarga biasanya. Tak ada yang namanya kepala keluarga, tak ada juga yang namanya kepala rumah tangga, yang ada hanya anggota keluarga yang saling membutuhkan satu sama lain dalam lingkup keluarga besar.
            Kami memang berbeda, tidak sama. Kami berbicara bukan dengan mulut atau pun bibir layaknya manusia pada umumnya. Tapi kami berbicara dengan bahasa hati yang tercipta karena kuatnya ikatan diantara kami. Seperti layaknya sebuah telepati, tak perlu mengeluarkan sepatah kata pun kami telah saling mengerti satu sama lain. Itulah yang memebuat kami berbeda dari biasanya. Karena bahasa hati adalah sifat dasar kami yang akan selalu melekat lebih dekat dengan nadi kami, seiring dengan derasnya aliran darah kami.
            Kami juga tidak menggunakan kain sutra yang lazim digunakan makhluk sesama kita. Pakaian kami terbuat dari rompi baja dengan tameng yang penuh menyelungkupi seluruh tubuh kami. Sehingga badan kami selalu luput dari serangan dan tembakan godaan lawan yang akan berusaha untuk mengalahkan kami. Karena rompi baja tersebut adalah modal utama kami di dalam setiap pertempuran di luar pertarungan yang nyata.
            Dengan adanya rompi baja, buka berarti kami tidak pernah merasakan kekalahan yang berarti. Berulang kali terpeleset, tersandung, jatuh, bahkan tersungkur dalam menjalani sebuah kenyataan yang meyakinkan bahwa kami memang belum menjadi pemenang. Memberikan bekas luka, menciptakan noda besar yang tertinggal di seluruh tubuh kami. Sehingga selalu menjadi alarm pengingat pemacum semangat kami yang membuat kami bertahan selama ini.
            Karena memang genggaman tanga kami yang membuat kami akan saling menguatkan satu sama lain. Karena kalah, bukan berarti gagal. Seperti kata pepatah, sebuah kekalahan adalah kesuksesan yang sedang mengalami penundaan. Mungkin ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuatnya datang di hadapan kami.
            Panah itu membuat kami selalu melesat tajam selayaknya kesatriya dalam medan perangnya. Walaupun hanya selangkah dua langkah, setiap harinya kami akan selalu berusaha untuk berlari kencang. Bukan jalan di tempat yang akan selalu stagnan dan berporos pada tempat yang sama, tanpa mengalami kemajuan.
            Kami senang memandang bintang-bintang yang bersinar pada setiap harinya, terutama di siang hari. Aneh memang, namun itulah kami. Sekali lagi, kami berbeda. Kami lebih senang memandang sesuatu yang jarang, bahkan tidak pernah dipandang oleh orang lain. Guna mengambil kesempatan yang tidak dilirik oleh manusia biasa pada umunya. Hanya itu yang dapat kami lakukan untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya dengan usaha yang seimbangan.
            Seperti keluarga pada umumnya, tentu kami akan memiliki sebuah rumah sebagai tempat kami berlindung. Grafika adalah sayap besar yang menaungi keberadaan kami. Kami bangga dengan adanya Grafika. Berada di bawah kepakan agungNya, kami diberi kebahagiaan yang sempurna di sana.
            Bangunan yang terbuat dari batu kesungguhan ditambah dengan semen kasih sayang dan dilengkapi dengan cat keceriaan. Membuat rumah tangga GVED menjadi keluarga yang sejarhtera. Dan diskusi adalah cara kami dalam membangun sebuah bahtera yang kuat dalam mengarungi derasnya deburan ombak cobaan yang sering kali menghalang kami di tengan perjalanan. Walaupun tak jarang perahu itu sempat goyang, bahkan bocor karena keteledoran dan kecerobohan kami. Namun itu semua dapat segera teratasi dengan secat berkat adanya kerja sama yang baik antar penumpangnya.
            Dan, inilah kami. Sebuah keluarga baru yang akan tetap bertahan dengan rompi baja dan tameng penangkal serangan. Serta bahasa hati yang membuat kami akan selalu mengerti, dan yang terpenting adanya genggaman yang selalu membuat kami ada dalam naungan kebersamaan yang nyata dan abadi.
            Mungkin hanya ini yang dapat diberikan sebagai bentuk rasa syukur dan ucapa terima kasih karena telah bergabung dalam keluarga inti ini..
Oleh : SAM98 (Kamis, 04 Desember 2014 19:08)

1 komentar: