Selasa, 30 Desember 2014

Menjelajahi Atmosphere Kota Jati (Part 1)

Jika kita sering menyebut Bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa yang kerap diperingati dengan berbagai lomba seperti cipta-baca puisi, cerdas-cermat, dan lain sebagainya. Maka sebut saja setelahnya, yakni Bulan November sebagai Bulan Bahagia selain Bulan Pahlawan. Mengapa demikian ?? Dan ada apa dengan kata Bahagia itu sendiri ??
            Sebuah esensi dari kata Bahagia akan terlahir tatkala terdapat banyak hal yang membuat kita senang dengan berbagai kebehagiaan yang ada. Bagaimana tidak, tepat sebualn yang lalu telah terukir sebuah kenangan indah yang mungkin akan sangat sulit untuk kami lupakan.
            LKS, Lomba Keterampilan Siswa tingkat Sekolah Menengah Kejuruan seJawa Timur datang lagi. Dengan berbagai bidang lomba yang diajukan, dengan segala macam keterampilan yang diujikan, serta dengan semua kecekatan yang ditandingkan. Menjadikan ajang lomba tahunan ini sebagai surga bagi setiap siswa SMK di Indonesia. Karena hanya di sinilah satu-satunya peluang mereka untuk mampu tampil ke muka luar, untuk menunjukkan kebisaan mereka dengan berbagai eksistensi yang ada.

            Juga sebagai tempat pembuktian dan peraduan nasib untuk mempertaruhkan jati diri mereka yang sebenarnya. Karena sebenarnya LKS ini dibuat untuk mengukur seberapa besar minat para siswanya kepada pendidikan SMK. Tak hanya itu, LKS juga digunaka sebagai tempat saling silaturahmi dan reuni perkumpulan setiap sekolah. Guna membangun sebuah harmonisasi antar sekolah di Indonesia, juga agar membangun ikatan tali persaudaraan dalam dunia pendidikan.
             Berbagai lomba pun juga ikut diajukan. Mulai dari web design, software aplikasi, design grafis, robotic, networking support, sampai olimpiade Fisika, olimpiade matematika, debat bahasa inggris, dan animasi pun ada. Membuka kesempatan yang selebar-lebarnya untuk berkarya, serta memberikan peluang yang seluas-luasnya untuk melakukan yang terbaik dari dirinya.
            Dan, hari dimulai pada hari Minggu dimana kami semua kurang lebih berduapuluhlima memulai perjalanan secara bersama-sama didampingi dengan pembimbing pada setiap lombanya. Sebelumnya persiapa telah kami lakukan selama kurang lebih tiga bulan lamanya. Kami kira, ini sudah cukup untuk melakukan persiapan hal-hal yang terbaik. Dan dalam sepuluh hari terakhir, kami berada dalam kondisi karantina . Situasi dimana total dalam hal latihan.
            Menguras banyak tenaga memang, tentu juga menyita banyak waktu. Namun ini adalah suatu kenikmatan tersendiri yang kami rasakan selama ini. Bagaimana tidak, kami adalah delegasi sekolah sebagai duta-duta perwakilan yang akan siap bertempur melawan mereka-mereka yang juga bernasib sama seperti kami. Memikul tanggung jawab besar agar mampu sebagai seorang juara dalam tertarungan hebat ini.
            Ya, anggap saja perlombaan ini sebagai sebuah pertarungan. Bukan busur dan panah sebagai senjata andalan kami, atau mungkin tombak, pedang dan gada sebagai sumber utama kekuatan kami. Namun tekat yang kuat telah mampu mengalahkan itu semua. Dengan sentuhan kekonsistenan menambah esensi dari keseriusan itu semakin nyata terlihat. Juga tameng yang akan kami gunakan ada doa yang senantiasa tercurahkan disetiap saat setiap waktu kami berada. Meminta kepadaNya agar diberikan kelancaran dan kemudahan untuk melewati ini semua.
            Dan sebuah bis kecil menjadi pintu gerbang terbukanya kami menuju tempat tujuan. Kota Jati, adalah sebutan akrab bagi Kota Bojonegoro yang kini menjadi tuan rumah berlangsungnya LKS tahun 2014 ini. Perjalanan kami telah dimulai, disaat satu persatu dari kami mulai memasuki pintu bis. Aura kompetisi pun sudah mulai terasa. Memilih tempat yang pas, lantas kami saling disibukkan dengan urusan kami masing-masing.
            Waktu adalah uang, mungkin adalah pepatah yang tepat untuk menggambarkan situasi pada saat itu. Bahkan dalam perjalanan pun kami masih melakukan latihan-latihan kecil. Entah itu dengan membaca buku, saling bertukar informasi, atau berkonsultasi dengan pembimbing kami.
            Perjalanan kami masih sangat panjang, berkisar antara lima sampai enam jam jalur darat yang harus kami lalui. Pemandangan yang tersedia tak begitu kami hiraukan, kebanyakan dari kami selalu membayangkan bagaiamana situasi yang akan terjadi pada saat perlombaan nanti. Puluhan, bahkan ratusan sekolah akan saling bertumpah ruah menjadi satu. Roda bis yang selalu bergulir cepat, seiring dengan doa kami yang juga tak hentai-hentinya mengalir dengan derasnya. Hingga tak dapat terhitung jumlahnya.
            Kadang tak jarang Pak Supir memberhentikan bis ini di beberapa POM Bensin. Untuk rehat sejenak, sekedar membeli minuman, atau mungkin saling bergiliran pergi ke kamar mandi SPBU tersebut. Benar-benar sangat bermanfaat. Tak hanya itu, waktu ini pun sering kami pergunakan untuk keluar dari bis dan menggerak-gerakkan badan guna mengusir rasa lelah yang mulai datang akibat duduk terlalu lama di dalam bis. Yang sering terlewat dipahami adalah, kami sebagai manusia adalah satu kesatuan tubuh dan pikiran. Seringkali, kebuntuan yang dialami pikiran adalah karena tubuh kita kelamaan dibiarkan kaku.

            Satu hal, kami hanya ingin menyajikan hal yang terbaik untuk almamater kami. Serta memberikan hasil yang makasimal pula sebagai timbal balik bentuk perhatian sekolah terhadap kami selama kami. Hanya itu…

            Memasuki Kota Bojonegoro, seperti gembar-gembor yang terdengar. Udaranya terasa teramat panas, lebih panas daripada Kota Surabaya yang notabene adalah Kota Pelabukan. Kami pun tak henti-henti saling berkipas-kipas guna memberikan setidaknya sedikit rasa sejuk dari kulit kami. Namun itu pun tak begitu berguna, bahkan lebih dari itu kami hingga saling berebut hembusan AC bis yang terasa jauh lebih segar dari pada kipas yang juga membawa udara panas itu.
            Dan moment-moment inilah sebagai alasan pertama yang membuat julukan Bahagia jatuh kepada Bulan November tahun ini. Kami menyebutnya sebagai ‘Peristiwa di Dalam Bis’. Ya. Anggap saja demikian. Peristiwa saat berebut AC, makan siang bersama di atas bis, karaoke bersama, mengabiskan serentetan waktu macet juga bersama, hingga tertidur pun juga bersama. Mungkin semuanya tak akan pernah bisa tergantikan dengan mudah.
Waktu telah menunjukkan tetapt pada tengah hari, saat takbir itu terdengar dari alarm salah seorang guru kami dari smartphone miliknya, sedang kami masih berada dalam hutan jati. Nampaknya perjalanan ini akan terasa panjang. Belum lagi macet, berjubel dengan kendaraan lain yang juga tak mau kalah satu sama lain. Mungkin mereka juga sama seperti kami, mengejar waktu untuk lekas sampai ke Kota tujuan masing-masing.
            Setelah kami tunaikan kewajiban kami sebagai seorang Muslim, yakni shalat dhuhur. Lantas kami melanjutkan perjalanan dengan penuh rasa kelelahan dan keletihan. Kami hampir sampai, terlihat baliho-baliho besar di pusat kotanya kata-kata ucapa selamat datang. Juga spanduk-spanduk yang saling berjejer membentuk sebuah barisan rapi, sepertinya sang pemasang sengaja memasangnya secara berjejer. Untuk menunjukan arah yang benar kepada pembacanya. Dan benar saja, kami dapat sampai ke tempat yang tepat berkat itu semua.

            Kami tiba di sebuah rumah yang mana nantinya kami akan menginap di sana selama beberapa hari. Tidak besar memang, hanya sekedar cukup untuk kami berempatpuluh ini. Sebuah rumah kontrakan yang kami sewa khusus untuk di Kota Bojonegoro ini. Di sinilah langkah kami akan dimulai, di sinilah awal dari kami berjuang. Rumah ini adalah basecamp markas Grafika dalam mempersipkan pertarungan di esok hari.
            Beratapkan cita-cita dan tekad, berdinding semangat yang kuat, dan beralaskan restu dan doa yang kami panjatkan membuat rumah ini terasa begitu harmonis. Dalam kebersamaan yang kami jalin, inilah alasan kedua mengapa kami menyebutkan Bulan November ini sebagai Bulan Bahagia. Makan bersama, saling berebut kamar mandi, shalat berjamaah, hingga bersama-sama menjalani latihan hingga larut malam pun kami jalani bersama-sama. Dan sekali lagi, hal-hal yang mungkin tidak akan pernah tergantikan. Walaupun diganti dengan orang lain sekalipun.
            Rumah ini sekaligus menjadi saksi bisu upaya kerja keras kami, kelembutan kami tenggelam dalam balutan mukena dan kain sarung di sepertiga malamnya. Jika Ia dapat berkata, mungkin Ia akan menemani kami menghabiskan sang waktu dengan banyak bercerita mengenai Kota Tayub ini. Namun nyatanya, Ia hanya dapat diam melihat semangat kami yang begitu meluap-luap dalam menyambut LKS Jatim ini.
            Lebih dari itu, rumah bercat merah ini seakan menggambarkan semangat kami yang juga merah membara semacam api yang berkobar dalam obor. Selain itu, juga sebagai tempat bernaung kami seusai bertempur. Sebangai naungan peraduan serta dermaga pelabuhan tempat kami bersandar dan merapat.           
            Semua dimulai pada hari Senin, sebagai hari pertama perlombaan. Semua berjalan dengan lancar seperti rencana. Gladi bersih yang telah kami lakukan semalam pun, juga tak jauh berbeda. Sama seperti prediksi sebelumnya, angin berhembus membawa hawa panas yang teramat luar biasa. Kami yang terbiasa dengan Kota Malang yang hawa dingin, harus dipaksa bergelut di tengah teriknya matahari yang begitu panas.
            Bayangkan saja, berfikir dengan kondisi yang tak nyaman tidaklah mudah. Kami terpaksa memutar otak untuk mengatai ini semua. Meminum banyak air mineral kami gunakan sebagai jembatan keledai dalam mengatasi rasa dahaga yang datang jauh lebih sering daripada biasanya. Hadapi saja dengan senyuman... J
            Selasa sebagai hari kedua harus kami jalani lagi dengan bersusah payah. Dengan udara panas yang masih sangat menyengat, bahkan hingga mencapai tiga puluh lima derajat celcius.
To Be Continue…

0 komentar:

Posting Komentar