Sabtu, 11 Januari 2014

CINTA LAMA BELUM KELAR




Aku adalah seekor Burung. Dengan dua buah sayap di kanan kiriku yang kupergunakan berjalan menuju kehidupan. Tak hanya itu, aku juga mempunyai bulu – bulu yang tebal. Yang menyelimuti seluruh permukaan kulitku. Seperti kelopak bunga yang melindungi putik pada bagian dalamnya.
Pada siangnya yang terik, aku menjelma menjadi seekor burung yang hinggap di atap – atap rumah. Dimana malamnya, atap itu akan berubah menjadi sebuah ruahan lolongan kesedihan roh yang berpisah dengan penghuninya. Namun tidak ada hal apapun yang benar – benar bisa menyuarakan hal tersebut.
Sepanjang malam, aku begitu lelah memilih siapa yang dengan rela untuk memberikan nafasnya. Untuk kupintal bersama cahaya dan ku bawa ke angkasa. Hingga pada akhirnya, aku adapat menemukan seberkas Angin yang berjalan begitu mendayu. Lalu memangkuKu sendiri di atas ayunannya yang memabukkan. Semacam menjadi candu yang tak bisa lagi kutolak. Tarikannya begitu kuat, tetapi tetap saja menciptakan sebuah kehangatan yang begitu berarti bagiKu.
Aku terpuaskan, dengan melebarkan sayap. Ku kepakkan dan aku pun melesat tinggi menjulang. Angin itu mampu membuatku terbang bebas, tanpa arah yang pasti. Semakin tinggi, tinggi, dan tinggi lagi. Nan menciptakan kolaborasi menawan dari nyanyian kicau yang terlontar dari paruh kecilku. Di sambung dengan tarian gemulai dari angin yang selalu membawaku pergi.
Angin itu mengajakku terbang ke atas secra konstan. Terbang dalam sebuah kebersamaan, mangajariku menitih sebuah kehidupan yang baru. Dengan merasakan lembutnya berbaring di atas awan, nikmatnya berdansa di atas kilauan pelangi, duduk di singggah sana bintang berlian, dan melihat betapa kuasa Tuhan menciptakan sebuah lukisan nyata yang tergambar aipk di atas kanvas alam semesta ini.
Inilah masa kejayaanku sebagai seekor Burung. Aku merasa menjadi sesuatu yang sangat spesial. Merasa saling mencintai dan di cintai. Dengan percaya dirinya, aku lebarkan sayapku, menguatkan cenghkraman cakarku, menguakkan seluruh isi hatiku, dan mendongakkan leherku sambil menajamkan pandangan ke berbagai sudut ruangan.
Hingga tiba waktunya, ada sebuah Api yang datang menghadang. Merenggut angin – angin surga yang kumiliki secara perlahan. Membakar bulu – bulu halusku pada semua bidang. Tak kuasa aku dalam menghadapinya, aku pun tumbang di atas abu pembakaran sisa – sisa buluku yang lain. Nyeri rasanya, kaku dan tak dapat dipergunakan kembali. Di depan sana, Anginku terbawa pergi oleh Api yang meluluhlantakkan segalanya.
Setelah angin itu pergi, kini ia meninggalkan sisa bakarannya pada sayapku. Aku hanya bisa mengandalkan cakarku yang mulai mengisut untuk dapat berjalan, walaupun itu masih saja tertatih. Sepertinya, Anginku itu lebih memilih menjalani hidup barunya bersama dengan Api yang terus terkobar. Menciptakan goresan luka yang sepertinya membutuhkan waktu cukup lama untuk dapat mengering secara sempurna.
Aku merasa kematian sudah mulai masuk secara perlahan melalui pori – pori dan lubang kejayaanku. Di setiap detik aku mengingat Angin itu, aku selalu terbayang oleh senja hitam yang membakarku kemarin. Ataupun tebaran abuku sendiri yang berjalan ke angkasa, meninggalkanku seorang diri. Maafkan, aku tidak punya lagi kematian yang harus kau ambil. Tetapi, kau boleh mengambil rohku kapan saja. Kalaupun kau mau, nanti malam sekalipun…
Mengapa semuanya berulang kembali ??? bahkan pencabut kesedihaku pun ikut membohongiku. Apakah rohku benar – benar diutus untuk terus menerus dikelabuhi ??? Angin, kau telah pergi, dan membuat mimpi – mimpiku pun pecah.
Sebagai seekor Burung, tentunya aku merasa sangat terhina. Kini, sayapku cacat dan tidak dapat berfungsi kembali. Aku hanya bisa bertengger di atas ranting kecil atau sekedar berjalan menuju dahan kering sebuah pohon yang berpayungkan kesunyian. Tanpa bisa menepakkan lagi sayap kebangganku. Sambil terus menunggu, menunggu, dan menunggu. Berharap, berharap, dan berharap lagi.
Entahlah, apa yang sebenarnya sedang aku tunggu ??? menunggu kematian kah ??? menunggu sebuah kematian yang datang seiring dengan daun kering itu. Jika daun itu berjatuhan setiap harinya, maka aku merasa semakin berkuranglah satu kehidupanku. Karena roh yang aku bawa akan menempel pada daun tersebut.
Atau kan aku sedang menunggu songsongan Angin yang baru ??? yang menyodorkan pelangi harapan di tengah adanya badai hati. Mengulangnya kembali dari awal. Mengajariku terbang kembali dari awal. Mengajariku terbang kembali di saat aku yang sedang tertatih ini. Layaknya bayi lumba – lumba yang sedang belajar cara berkedip atau sekedar membuka mata kepada sang induk yang memang lebih berpengalaman.
Sering kali aku memancing, agar Anginku yang dulu dapat kembali. Sudah kutebarkan cinta yang tulus sebagai unpannya. Namun, lagi – lagi hanyalah perolehan nilih yang ku dapatkan. Dengan berat hati, aku mencoba untuk membuka pintu kepada Angin – angin yang lain. Memberikan kesempatan baru untuk mencoba terbang kembali bersama mereka.
Banyak Angin baru yang datang menghampiri, mengajakku untuk terbang merasakan ‘kelembutan’nya itu. Saat benar – benar ku coba, suasananya sangat berbeda. Memang benar aku dapat terbang, namun sering kali aku oleng dan tak terkendalikan. Padahal, sudah benar kupastikan bahwa sanya sayapku baik – baik saja.
Tekanan angin yang berbeda, membuat sensasinya pun tak sama. Ku coba dengan angin yang lain lagi, tetap sama, tidak ada yang bisa membuatku merasa nyaman akan keseimbangannya. Tidaka ada yang seperti dulu. Angin yang bisa membuatku terbang tinggi, secara seimbang. Angin lama itu yang salah, dia pergi dengan meninggalkan luka kepedihan, tanpa pernah kembali lagi.
Aku melihat dari luar sana banyak sesamaku yang menjalani hidupnya sesuai dengan kodrat dan lingkar kegidupannya masing – masing, tanpa mernah mengeluh barang sedikit pun. Ikan yang bergoyang dengan sirip dan dibantu dengan dorongan dari ekornya. Serta kijang yang dengan bangga berlari kencang memamerkan keempat kakinya yang kokoh.  Ataupun ulat yang berjalan dengan 1000 kaki semunya. Semuanya berjalan dengan pasti. Terkecuali aku, yang masih dengan keabu-abuan … kelabu…
Sebenarnya, siapakah diriku ini ??? selama ini aku merasa menjadi seekor Burung Rajawali. Yang mempunyai paruh yang tajam, cakar yang kuat, sayap yang kokoh, dan bulu peredam suara yang lembut. Semuanya tampak sempurna. Kecuali satu hal yang membuatku cukup janggal. Mungkinkah seekor Rajawali, sebagai raja dari kawanan sejenisku, tidak mampy terbang dengan baik tanpa adanya seberkas Angin ???
Bukankah seekor Rajawali mampu terbang madiri dengan kedua karuniaNya yang Maha Dahsyat ???  Bukankah Angin itu terlahir dari kepakan kedua sayapku ??? Bukankah Angin itu adalah udara yang bergerak ??? Jadi selama ini kubutuhkan bukanlah Angin… Namun, udara… Jika memang benar demikian, apakah jati diriku yang sebenarnya ???
Terkadang, aku suka berkaca di atas sungai di pinggir desa. Memang benar di sana tergambar dengan jelas perawakan keRajawalianku. Yang terlihat sangat sangar dan penuh dengan kebengisan. Namun, di saat siangnya yang terik, bayang – banyangku terlihat seperti seekor Kutilang yang senang bersiul di atas pucuk cemara sepanjang hari. Kadang juga seperti burung Pipit yang seka memakan biji padi milik Pak Tani dengan paruhnya yang teramat tebal.
Aku tak ingin melepaskan diriku yang sekarang. Aku terlanjyr nyaman dengan menjadi seekor Rajawali. Namun aku juga tidak bida terus menerus berjalan di tempat yang sama. Aku juga harus berlari. Tapi, aku tidak akan bisa berlari jika aku tetap menjadi seekor Rajawali. Aku selalu terbanyang pada kenangan indak bersama sang Angin. Aku harus menjadi burung yang baru. Individu baru, jati diri baru, dan masa depan yang baru pula. Mungkin dengan jati diri yang baru, aku bisa menjadi lebih baik lagi…
Kini, aku ingin menjadi seekor Merpati. Seekor burung kesetiaan yang mampu terbang tinggi secara mandiri. Aku akan terbang menembus Angin dan bergarap untuk dapat bertemu dengan Merpati lain dan bahagia bersamaNya……..


Selamat Jalan ANGIN...
Selamat Datang UDARA...



Karya : SAM98 (Minggu, 8 Desember 1013. 22:30:47)

0 komentar:

Posting Komentar