This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Wayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wayang. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Februari 2014

Tokoh – Tokoh : Pandawa Lima


PANDAWA sebutan bagi kelima orang anak Pandu Dewanata.
Kelima orang Pandawa itu adalah :
-Yudhistira/Puntadewa
-Bima/Werkudara
-Arjuna/Janaka
-Nakula
-Sadewa
Pandawa dianggap musuh oleh para Kurawa (anak-anak Destarata). Dalam berbagai mata pelajaran Pandawa selalu lebih unggul daripada para Kurawa. Pada ilmu kesastraan dan ketatanegaraan, misalnya, Puntadewa selalu lebih unggul. Soal adu tenaga dan keterampilan memainkan gada, Bima tidak tertandingi. Sedangkan dalam keterampilan memainkan panah dan pedang, Arjuna paling jago. Nakula dan Sadewa pada waktu itu masih kecil, belum banyak berperan. Di antara Pandawa dan Kurawa, Bima adalah anak yang paling besar tubuhnya dan paling kuat tenaganya. Di hari tuanya, kelima Pandawa menyongsong saat kematiannya dengan sadar. Mereka mendaki Gunung Himalaya untuk menyongsong ajal, diikuti oleh seekor anjing berbulu putih. Yang pertama dijemput oleh Batara Yamadipati, dewa kematian adalah Dewi Drupadi (istri para Pandawa). Setelah itu Sadewa, kemudian Nakula, Arjuna, dan Bima. Puntadewa tidak menemui ajalnya. Sampai perjalanannya mencapai pintu surga, ia dijemput oleh Batara Endra. Namun sewaktu Batara Endra melarang seekor anjing putih yang hendak masuk, Puntadewa menolak ajakan Batara Endra masuk ke surga, katanya: “Jikalau sorga tidak menghargai kesetiaan, meskipun kesetiaan itu diperlihatkan oleh seekor anjing, sebaiknya hamba tidak usah masuk ke sorga yang demikian”.

MENGENAL KARAKTER TOKOH PUNAKAWAN


Dalam pewayangan tersebut ada beraneka macam tokoh. Konon Sunan Kalijaga telah menciptakan wayang kulit tersebut untuk sarana dakwah, agar manusia senantiasa Eling marang GUSTI ALLAH.

banyak sekali karakter pewayangan. Diantara tokoh-tokoh wayang kulit ada tokoh yang disebut Punakawan. Punakawan adalah karakter yang khas dalam wayang Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. Dalam wayang Jawa karakte rpunakawan terdiri atas Semar, Gareng, Bagong, dan Petruk. Dalam wayang Bali karakter punakawan terdiri atas Malen dan Merdah (abdi dari Pandawa) dan Delem dan Sangut (abdi dari Kurawa)

Semae Kuning


Kerajaan Dwarawati tengah berbenah. Di sudut-sudut kota, dihiasi umbul-umbul beraneka warna. Di gerbang-gerbang masuk perkampungan, terlihat indah dan bau harum bunga-bunga yang dirangkai oleh warga. Rakyat Dwarawati sedang bergembira menyambut kabar dari kerajaan tentang akan dilangsungkannya perkawinan antara putri raja yaitu Dewi Siti Sendari dengan putra Amarta Raden Abimanyu, putra dari Arjuna dan Sumbadra.

Panggung-panggung hiburan didirikan di tengah lapang, dipersiapkan untuk pesta pertunjukan hiburan bagi rakyat yang turut bergembira atas perkawinan itu. Orang-orang dari desa terlihat berbondong-bondong memasuki gerbang kotaraja dari segala arah. Tujuannya, pertama ingin turut menyaksikan perkawinan putri raja mereka, yang terkenal sangat cantik jelita, dengan seorang yang tak kalah terkenalnya karena begitu rupawan wajahnya dan begitu kesohor kesaktiannya, yaitu Abimanyu. Tujuan kedua tentu saja adalah menyaksikan dan ingin menikmati hiburan-hiburan yang jarang mereka saksikan di kampung-kampung mereka.